TUGAS MATA KULIAH EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
NILAI MANFAAT HUTAN MANGROVE DI DESA SAUSU PEORE KECAMATAN SAUSU KABUPATEN PARIGI MOUTONG
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
MUHAMMAD DIMAS
191201013
HUT 4A
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas ini dibuat untuk memenuhi syarat mata kuliah Ekonomi Sumber daya Hutan bagi mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Dr. Agus Purwoko. S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan dan teman-teman di lingkungan kampus yang telah ikut serta membantu dalam penyelesaian tugas ini dengan memberikan ide dan dorongan semangat.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis. Akhir kata semoga tugas Ekonomi Sumber Daya Alam ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya
Medan, Maret 2021
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Wilayah pesisir dan laut Indonesia mempunyai kekayaan dan keanekaragaman hayati (biodiviersity) terbesar di dunia, yang tercermin pada keberadaan ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan berjenis-jenis ikan, baik ikan hias maupun ikan konsumsi Kekayaan sumberdaya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya karena secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi. Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan, yang mencangkup beberapa ekosistem, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove (Rahmawaty, 2006).
Pemanfaatan wilayah pesisir mempunyai
banyak tujuan pada berbagai macam aktivitas ekonomi yang ada. Dampak dari suatu aktivitas
ekonomi yang satu terhadap yang lain mempunyai
potensi saling merugikan manakala tidak diatur
keselarasannya. Disisi lain
masing-masing aktivitas ekonomi selalu berusaha
untuk memaksimumkan keuntungan dengan sumberdaya yang dimiliki. Oleh karena itu integritas pengelolaan dengan berbagai macam tujuan dan prioritas harus dapat ditentukan dengan baik. Dasar penentuan tersebut
tentunya harus tetap memperhatikan keselarasan dari sebuah sistem lingkungan, dengan demikian
analisis manfaat ekonomi dan ekologi
suatu ekosistem harus tetap menjadi dasar utama dalam perumusan model kebijakan yang
dilakukan (Harahab,2011).
Hutan mangrove merupakan ekosistem khas wilayah tropika yang unik dalam lingkungan hidup yang memiliki formasi perpaduan antara daratan dan lautan. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan sehingga terjadi interaksi kompleks antara sifat fisika dan sifat biologi. Mangrove tergantung pada air laut (pasang) dan air tawar sebagai sumber makanannya serta endapan debu (sedimentasi) dari erosi daerah hulu sebagai bahan pendukung substratnya. Proses dekomposisi serasah mangrove yang terjadi mampu menunjang kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Hutan mangrove mempunyai manfaat ganda dengan pengaruh yang sangat Iuas apabila ditinjau dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi.
Besarnya peranan hutan mangrove atau ekosistem mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyaknya jenis flora fauna yang hidup dalam ekosistem perairan dan daratan yang membentuk ekosistem mangrove. Kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati ini mempunyai segudang harapan bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup. Sehingga hutan mangrove sering sekali manjadi incaran para pemodal dan masyarakat untuk mengelola dan merubah fungsi hutan mangrove tersebut. Salah satunya adalah hutan mangrove yang terletak di Desa Sausu Peore Kecamatan Sausu yang oleh masyarakat setempat lebih populer disebut dengan hutan bakau yang dimanfaatkan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu hutan mangrove yang di Desa Sausu Peore dimanfaatkan sebagai tempat ekowisata karena pemandangannya yang indah. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian ekonomi terhadap pemanfaatan hutan mangrove yang ada di Desa Sausu Peore.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari paper yang berjudul Nilai Manfaat Hutan Mangrove Di Desa Sausu Peore Kecamatan Sausu Kabupaten Parigi Moutong adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang termasuk dalam identifikasi Manfaat dan Fungsi yang terkait dengan Hutan Mangrove?
2. Apa mamfaat hutan mangrove bagi desa Sausu?
Tujuan
1. Untuk mengetahui identifikasi Manfaat dan Fungsi yang terkait dengan Hutan Mangrove
2. Untuk Mengetahui mamfaat hutan mangrove bagi desa Sausu
BAB 2
ISI
Identifikasi manfaat dan fungsi
Manfaat langsung hutan mangrove adalah manfaat yang diperoleh dari hutan mangrove seperti mengambil kayu bakar, kayu bangunan, ikan, kerang, kepiting (Fauzi, 2002 dalam Lilian, 2009; Anissatul, 2007). Pengukuran manfaat langsung hutan mangrove ini dilakukan dengan metode pendekatan harga pasar untuk mengkuantifikasi harga manfaat yang diperoleh. Proses perhitungan nilai manfaat langsung hutan mangrove dilakukan dengan menjumlahkan seluruh volume produksi dikali harga jual kemudian dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk tiap-tiap manfaat yang diperoleh dalam waktu satu tahun. Berikut adalah rumus untuk penilaian manfaat langsung hutan mangrove.
Nilai Manfaat Langsung = ( jumlah produksi/tahun X harga jual) - biaya/tahun
Manfaat tidak langsung adalah nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan jasa yang dihasilkan sumberdaya dan lingkungan Manfaat tidak langsung hutan mangrove dapat dikuantifikasi menggunakan metode harga tidak langsung. Pendekatan ini digunakan apabila mekanisme pasar gagal memberikan nilai suatu komponen sumberdaya, karena komponen tersebut belum memiliki pasar. Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove diperoleh dari suatu ekosiste secara tidak langsung seperti penahan abrasi pantai. Manfaat tidak langsung hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai dapat diketahui dari biaya pembuatan breakwater atau bangunan pemecah ombak disepanjang garis pantai hutan mangrove yang ada di Desa Sausu Peore. Biaya tersebut meliputi biaya pasir, semen, besi beton, batu dan kerikil, dan biaya tenaga kerja. Rumusuntuk mencari manfaat tidak langsung yaitu:
Nilai Manfaat Tidak Langsung =
(jumlah biaya pembuatan bangunan pemecah ombak per satu meter X panjang garis pantai hutan mangrove)
Setelah semua data pemanfaatan telah dikuantifikasikan, selanjutnya pengolahan data untuk Nilai Ekonomi Total hutan mangrove dilakukan dengan cara menjumlahkan semua nilai manfaat yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasi dengan formula sebagai berikut. Data yang diperoleh akan dianalisa dengan cara deskriptif kuantitatif dan disajikan dalam bentuk tabel.
Nilai Ekonomi Total = Nilai Manfaat Langsung + Nilai Manfaat Tidak Langsung
Mamfaat Hutan Mangrove Bagi Desa Sausu
Manfaat langsung hutan mangrove merupakan manfaat langsung yang diambil dan digunakan langsung oleh masyarakat yang ada khususnya yang ada di Dusun I Desa Sausu Peore untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Berdasarkan hasil identifikasi, pemanfaatan langsung hutan mangrove terdiri atas manfaat hasil hutan dan manfaat hasil laut yang dibagi kedalam 7 (tujuh) manfaat yaitu manfaat kayu bakar, manfaat kayu bakar untuk acara atau pesta pernikahan, manfaat kayu bangunan, manfaat ikan, manfaat, kerang, manfaat kepiting dan manfaat kelelawar.
|
No |
Jenis Manfaat Langsung |
Nilai Manfaat Bersih (Rp) |
(%) |
|
1 |
Kayu Bakar |
13.350.753 |
2,60 |
|
2 |
Kayu Bahan Bangunan |
29.625.000 |
5,77 |
|
3 |
Ikan |
208.696.000 |
40,64 |
|
4 |
Kerang |
19.800.000 |
3,86 |
|
5 |
Kepiting |
25.068.000 |
4,88 |
|
6 |
Kelelawar |
216.960.000 |
42,25 |
|
Jumlah |
513.499.753 |
100 |
|
Pengambilan kayu bakar bagi masyarakat di Desa Sausu Peore khususnya yang ada di Dusun 1 mencapai 66,9755 mᶾ dengan biaya yang di keluarkan untuk mengambil kayu bakar tersebut mencapai Rp 6.631.000,-. Nilai manfaat kayu bakar di peroleh dari jumlah kayu bakar dikalikan dengan harga setiap mᶾ di kurangi biaya yang dikeluarkan adalah Rp 10.447.753,- per tahun. Selain memanfaatkan kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangga, masyarakat juga memanfaatkan kayu mangrove sebagai kayu bakar dalam acara pesta pernikahan atau hari raya keagamaan. Masyarakat lebih memilih menggunakan kayu bakar untuk acara pesta pernikahan daripada membeli minyak tanah karena membutuhkan biaya yang banyak jika mengggunakan minyak untuk memasak dibandingkan menggunakan kayu bakar dari hutan mangrove.
Setiap pesta pernikahan atau acara keagamaan, masyarakat biasanya mengambil kayu mangrove secara bergotong royong dengan mengambil 10 – 150 kayu bulat ukuran panjang 40 cm yang berdiameter rata-rata 27 cm. Satu kayu bulat ukuran 40 cm dengan diameter 27 setara dengan 0,022902264 mᶾ. Harga untuk setiap mᶾ yang ada di desa sausu peore adalah Rp 220.000,-. Biaya yang di keluarkan pun bervariasi mulai dari Rp 8.000 – Rp 250.000 dalam setiap pengambilan. Pengambilan kayu bakar untuk acara pesta pernikahan atau acara keagamaan mencapai 24,75 mᶾ dengan biaya yang dikeluarkan berjumlah Rp 2.542.000,- sehingga nilai manfaat kayu bakar untuk acara pesta pernikahan atau acara keagamaan adalah Rp 2.903.000,- dalam setahun.
Masyarakat yang ada di Dusun 1 Desa Sausu Peore tidak hanya memanfaatkan kayu mangrove sebagai kayu untuk bahan bakar pengganti minyak tanah tetapi juga memanfaatkan kayu mangrove sebagai bahan untuk pembuatan rumah. Sihite, (2005) dalam (Patiar, 2009) menyatakan bahwa kayu mangrove jenis Rhizophora diyakini mempunyai tekstur yang kuat untuk menyangga rumah penduduk. Jumlah kayu yang diambil dalam setiap pengambilan berkisar 0,19 mᶾ - 6 mᶾ. Harga yang ditetapkan oleh masyarakat setempat untuk setiap mᶾ adalah Rp 1.700.000,-. Karena jarak hutan mangrove yang dekat dengan pemukiman maka biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak. Biasanya masyarakat menggunakan chainshaw untuk mengambil kayu mangrove namun adapula yang menggunakan parang serta menggunakan perahu (katinting) untuk mengakutnya ke Desa. Pengambilan kayu bangunan oleh masyarakat dalam setahun mencapai 22,03 mᶾ dengan biaya Rp 7.826.000,- sehingga nilai manfaat kayu untuk bahan bangunan rumah adalah Rp 29.625.000 per 10 tahun. Jika di bagi per tahun maka nilai manfaat kayu untuk bahan bangunan adalah Rp 2.962.500,-.
Harga setiap jenis ikan untuk setiap cucu yang ada di Desa Sausu Peore yaitu untuk jenis ikan baronang Rp 25.000/cucu, untuk ikan katamba Rp 10.000,-/cucu dan untuk ikan bibara Rp 5.000,- / cucu. Jika dikonversi kedalam satuan kg maka harga untuk setiap ikan adalah untuk jenis ikan baronang Rp50.000/kg, untuk jenis ikan katamba Rp 30.000,-/kg dan untuk jenis ikan bibara Rp 12.500,-/kg. Biaya yang dikeluarkan masyarakat dalam setiap pengambilan ikan berkisar antara Rp 20.000 – Rp 30.000. Biaya yang dikeluarkan tersebut digunakan untuk membeli bensin untuk mesin perahu (katinting), rokok dan makanan. Selain biaya yang sering dikeluarkan, ada juga biaya yang dikeluarkan sebagai investasi awal yang berjumlah Rp 13.000.000. Biaya tersebut merupakan biaya pembuatan jaring (zero) dan hanya dikeluarkan sekali saja. Jumlah ikan yang diambil dalam setahun dari setiap jenis ikan berjumlah 3504 kg untuk jenis ikan baronang, 1344 kg untuk jenis ikan katamba, dan 9340,8 kg untuk jenis ikan bibara. Biaya yang dikeluarkan dalam setahun mencapai Rp 123.584.00,- . Dengan demikian nilai manfaat langsung ikan dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah tangkapan ikan dengan harga jual dikurangi biaya adalah Rp 208.696.000,- per tahun.
Kerang yang diambil dari hutan mangrove kemudian dijual menggunakan ukuran kati yang di tetapkan oleh masyarakat setempat. Harga satu kati kerang berkisar Rp 5.000 yang telah dibersihkan dari kulitnya. Jika dikonversi kedalam ukuran kg maka untuk ukuran satu kati kerang memiliki berat sekitar 0,34 kg sehingga untuk mendapat satu kg kerang dibutuhkan tiga kati kerang bersih dengan harga per kg sebesar Rp 15.000,-. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk mengambil kerang cukup murah dalam sekali mengambil kerang yang berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 . Biaya tersebut digunakan membeli makanan, bensin dan autan. Pengambilan kerang dalam setahun dapat mencapai 1732,4 kg dengan frekuensi pengambilan sebanyak 582 kali. Biaya yang dikeluarkan dalam setahun mencapai Rp 6.168.000,-. Dengan demikian nilai manfaat kerang dapat dihitung dengan mengalikan jumlah kerang yang didapat dengan harga per kg kerang yaitu Rp 19.800.000,-.
Masyarakat biasanya menangkap kelelawar menggunakan alat berupa pancing yang dibentangkan di antara dua pohon mangrove yang berjumlah 10-20 mata pancing. Frekuensi penangkapan kelelawar dapat dilakukan setiap hari yaitu pada saat pagi hari selama kelelawar menetap di hutan mangrove sebagai tempat untuk beristrahatnya. Kelelawar yang ditangkap kemudian dijual per kg dengan harga berkisar Rp 7.000 – Rp 12.000/kg. Biaya yang dikeluarkan untuk sekali menangkap kelelawar sangat murah berkisar antara Rp1.000 – Rp 15.000. Namun biaya awal untuk menangkap kelelawar dapat mencapai Rp500.000. Biaya tersebut digunakan untuk membeli alat penangkapan berupa mata pancing, tali pancing, nilon, tempat penampungan kelelawar yang ditangkap dll. Jumlah kelelawar yang ditangkap setiap pengambilan berkisar 3kg sampai 50kg. Jumlah kelelawar yang ditangkap oleh masyarakat Dusun 1 Desa Sausu Peore dalam setahun mencapai 22920 kg dengan frekuensi pengambilan sebanyak 1620 kali. Biaya yang dikeluarkan dalam setahun untuk menangkap kelelawar mencapai Rp 32.340.000,- Dengan demikian nilai manfaat langsung kelelawar adalah Rp 216.960.000,-
Manfaat tidak langsung hutan mangrove merupakan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat Desa Sausu Peore secara tidak langsung. Manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi tidak dapat di hitung secara lansung karena tidak memiliki nilai harga pasar. Untuk menghitung nilai manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi dapat diestimasi menggunakan replacement cost atau biaya pengganti dengan pembuatan bangunan pemecah ombak (Break water). Berdasarkan data pembuatan bangunan pemecah ombak yang diperoleh dari Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah, untuk membuat bangunan pemecah ombak ukuran 70 cm X 300 cm X 150 cm dengan daya tahan selama 10 tahun dibutuhkan biaya sebesar Rp 901.272,38,- per mᶾ. Untuk panjang 1 (satu) meter bangunan menggunakan 3 (tiga ) mᶾ campuran bahan pembuatan bangunan pemecah ombak sehingga membutuhkan biaya sebesar Rp 2.703.817,-.
Sesuai hasil pengukuran, panjang garis pantai mencapai 1830 m. Dengan demikian, apabila diadakan pembuatan bangunan pemecah ombak dengan ukuran yang ditetapkan oleh Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah maka akan membutuhkan biaya sebesar Rp 4.947.985.366,-. Sehingga dengan asumsi daya tahan bangunan penahan ombak selama 10 tahun maka nilai manfaat langsung hutan mangrove sebagai penahan abrasi setiap tahun sebesar Rp 494.798.536,62-/tahun.
Hasil identifikasi manfaat langsung dan tidak langsung hutan mangrove yang ada di Desa Sausu Peore dikuantifikasikan ke dalam nilai rupiah maka di peroleh nilai manfaat langsung dan tidak langsung hutan mangrove yang ada di Desa Sausu Peore sebesar Rp 1.013.164.993,- per tahun dengan rincian dapat dilihat
|
Jenis Manfaat |
Nilai Manfaat (Rp/Tahun) |
Nilai Manfaat (Rp/Ha/Ta hun) |
(%) |
|
Langsung |
513.499.753, |
2.232.607, 62 |
50,93 |
|
Tidak Langsung |
494.798.536, 62- |
2.151.297, 98 |
49,07 |
|
Total |
1.008.298.28 9,62 |
4.383.905, 60 |
100 |
Manfaat langsung dan manfaat tidak langsung hutan mangrove di Desa Sausu Peore memberikan fungsi dan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya yang ada di Dusun 1 Desa Sausu Peore. Manfaat langsung memberikan proporsi sedikit lebih bannyak dibandingkan manfaat tidak langsung. Hal ini sesuai dari pendapat dari setiap responden yang dijumpai pada saat wawancara bahwa hutan mangrove memberi pengaruh yang besar bagi masyarakat yang ada setempat. Oleh karena itu masyarakat tetap menjaga kelestarian hutan mangrove walaupun dimanfaatkan secara langsung. Dengan tetap menjaga hutan mangrove agar lestari maka manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi dapat berfungsi secara terus menerus untuk mencegah ombak atau air laut untuk masuk ke dalam pemukiman masyarakat. Nilai ekonomi total manfaat langsung dan tidak langsung hutan mangrove yang terdapat di Desa Sausu Peore dapat berubah setiap tahunnya karena disesuaikan dengan pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Hasil identifikasi manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat Desa Sausu Peore terdiri atas manfaat langsung kayu bakar, kayu bangunan, ikan, kerang, kepiting, dan kelelawar sedangkan hasil identifikasi untuk manfaat tidak langsung yang dirasakan oleh masyarakat Desa Sausu Peore adalah manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai.
2. Berdasarkan hasil kuantifikasi nilai manfaat langsung hutan mangrove dalam setahun sebesar Rp 513.499.753,- dan nilai manfaat tidak langsung hutan mangrove sebesar Rp 499.655.240,- sehingga nilai ekonomi total manfaat langsung dan tidak langsung hutan mangrove yang ada di Desa Sausu Peore mencapai Rp 1.013.164.993.
Saran
Pemerintah seharusnya lebih mendukung pemamfaatan hutan mangrove di desa Sausu sehingga pemamfaatannya dapat lebih efektif lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Motoku, A. W., Umar, S., & Toknok, B. (2014). Nilai Manfaat Hutan Mangrove Di Desa Sausu Peore Kecamatan Sausu Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal Warta Rimba, 2(2).
Rahmawati, 2006. Upaya Pelestarian Mangrove Berdasarkan Pendekatan Masyarakat. Karya Tulis Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan.
Harahab. N. 2011. Valuasi Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove Dalam Perencanaan Wilayah Pesisir. Berk Penel Hayati Edisi Khusus : 7A (59-67).
Anissa, F. 2012. Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove Pasca Rehabilitasi Di Pesisir Pantai Tlanakan Kabupaten Pamekasan Jawa Timur. Skripsi. Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Patiar, T. 2009. Kajian Potensi Ekonomi Mangrove. (Studi Kasus di Desa Kayu Besar Kecamatan Bandar Khalifah Kabupaten Serdang Berdagai). Skripsi Manajemen Hutan. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Manteup bangetttt
BalasHapusMantep poll isinya
BalasHapusMatappujiwaaaa
BalasHapusSangat menambah wawasan
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat informatif min
BalasHapusMantap lurrr. Sangat bermanfaat untuk kita smua
BalasHapusMantap sekali kak
BalasHapusInformasi yang bermanfaat
BalasHapusTerima kasih
🔥🔥🔥
bagus
BalasHapusInformasi yang sangat bermanfaat
BalasHapusHai dimas bagus banget blog kamu saya suka🖤
BalasHapusBanyak manfaat yang dihasilkan oleh mangrove
BalasHapusTerimakasih infonya min sangat bermanfaat
Nice info
BalasHapusMantap
BalasHapusInformasinya sangat bermanfaat mas, terimakasih lo ya
BalasHapusInformasi yang bagus
BalasHapus